Juni 18, 2024

DENPASAR | BUSERBHAYANGKARA.TV.COM

Budayawan Putu Suasta yang juga Alumnus UGM dan Cornell University ikut merasa prihatin penangan sampah menggunung dan timbulkan bau tidak sedap di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung menjelang HUT Kota Denpasar ke-235.

Kemelut sampah itu dikhawatirkan timbulkan citra buruk pariwisata Bali, karena letaknya di episentrum aktivitas pariwisata, dekat dengan Pelabuhan Benoa, Pura Sakenan Serangan, Sanur dan Tol Bali Mandara. 

Hampir setahun, Gubernur Koster berencana melakukan penutupan permanen terhadap TPA Suwung. TPA itu ditutup dengan kembali membangunan tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Kota Denpasar. 

Namun hingga kini TPST itu belum beroperasi hingga mendapatkan sorotan dari publik, kampus, pers, industri perhotelan, LSM dan Desa Adat. Juga Anggota DPRD Kota Denpasar, 

TPA Suwung merupakan salah satu tempat penampungan sampah terbesar di Bali yang menampung limbah dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang kini dikelola oleh UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali. Maka dari itu, peran dan tanggung jawab Gubernur Bali sangat penting untuk mengatasi masalah tata kelola sampah ini. 

TPA Suwung, yang berdiri di atas lahan seluas 32 hektare dan beroperasi sejak 1980-an, menampung setidaknya 1.200 ton sampah per hari.

Limbah rumah tangga yang dibuang ke TPA Suwung saat ini menumpuk hingga membentuk gunungan sampah dan overload sebagaimana yang ada di TPST Bantar Gebang. Serta khawatir resiko bencana yang timbulkan korban jiwa seperti tragedi TPA Leuwigajah Bandung.

“Masalah mesti jadi atensi khusus, ledakan masalah sampah bisa akan semakin besar jika terlambat dan salah kelola serta berujung pada kegagalan pemimpin Bali,” kata Putu Suasta di Denpasar, Sabtu 25/2. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *