Juli 22, 2024

Buser Bhayangkara Tv. Surabaya – Seorang pria kedapatan merokok di dalam pesawat Citilink Indonesia QG 949 Batam -Surabaya saat di tengah perjalanan dari Batam menuju Surabaya, Sabtu (18/11/2023).

Penumpang itupun telah diamankan petugas setibanya di bandara.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat sesosok pria yang diamankan petugas setelah ketahuan tengah merokok.
Berikut fakta-fakta penumpang merokok di dalam pesawat serta aturannya:

1, Citilink benarkan penumpang merokok di pesawat.
Pihak Citilink Indonesia dikonfirmasi membenarkan kejadian adanya pria kedapatan merokok pesawatnya tersebut. Kejadian itu diketahui terjadi pada penerbangan Citilink Indonesia QG 949 rute Batam menuju Surabaya.
Head of Corporate Secretary & CSR Division PT Citilink Indonesia, Haza Ibnu Rasya menyebut penumpang pria yang kedapatan merokok di pesawat tersebut telah di amankan. Penumpang itu diamankan oleh petugas bandara Juanda, Surabaya
Kenapa petugas bandara, penumpang pria yang kedapatan merokok di dalam pesawat saat penerbangan dalam itu mengakui kesalahannya.

  1. Aturan larangan merokok saat berada di pesawat.
    Sebagai informasi, setiap orang dilarang merokok di dalam pesawat. Berlaku baik. Sebelum, saat, dan setelah penerbangan.
    Hal ini terkait keamanan dan keselamatan penerbangan serta kenyamanan bagi seluruh penumpang.
    Aturan keamanan dan keselamatan penerbangan tertuang dalam Undang-undang (UU) Nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi baik administratif maupun pidana (pasal 412).
    Dalam pasal 54 huruf A menyebutkan.
    Pelaku dapat dihukum dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
    Diketahui, merokok dalam penerbangan pertama kali dilarang pada 1987 di Australia, diikuti Amerika Serikat pada 1988 dan 1997 oleh Uni Eropa.
    Meski demikian, pesawat, bahkan pesawat baru, tetap memiliki asbak di dalamnya.
  2. Terancam denda Rp2,5 Miliar.
    Larangan merokok di pesawat juga merupakan standar internasional yang di tetapkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan telah di adopsi oleh banyak negara di seluruh dunia.

Diketahui, pelaku juga bisa di kenakan sanksi denda maksimal Rp 2,5 Miliar atau penjara maksimal 5 tahun.
Sanksi tersebut diatur dalam pasal 412 ayat 6 Undang – Undang penerbangan Nomor 1 Tahun 2009.
Di kutip dari berbagai sumber.

(Red – Dng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *