Juli 22, 2024

buserhayangkaratv. Jakarta, Selasa, 19/12/23. Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menggelar acara Pagelaran Seni Budaya Berbasis Komunitas Provinsi DKI Jakarta 2023, bertema “Komunitas Seni Menuju Daerah Khusus Jakarta”, di Rooftop Pasar Gembrong, Prumpung, Jakarta Timur.

Acara tersebut melibatkan puluhan komunitas yang ada di Jakarta yang berada diwilayah jabodetabek, serta para pembicara yang kapasitasnya sebagai seniman telah diakui, ditambah acara tersebut menghadirkan seorang budayawan, Taufik Rahzen, dan seorang anggota Dewan Kesenian Jakarta, Imam Ma’arif.

Ketua Masyarakat Penggiat Seni Indonesia, Mujib Hermani, saat diwawancarai oleh team media, mengatakan, “acara ini sebetulnya ‘Panggung Nan Rembug’ untuk menyikapi hasil dari Kongres Kebudayaan juga Musyawarah Dewan Kesenian Indonesia, kita menyikapi hasil itu, dan merespon buku kumpulan puisi hasil karya dari Nuyang Jaimee dari yang berjudul “Pendoa yang lupa nama Tuhannya”. Acara ini juga dihadiri perwakilan dari komunitas-komunitas di jabodetabek turut merespon acara ini. Jadi. Hal-hal seperti ini perlu kita jaga. Gotongroyong bersama itu perlu kita jaga antar komunitas. Nah, jadi. Antara komunitas tari, musik, teater, rupa, sastra dan lain sebagainya tidak ada lagi sekat-sekat. Nah, kami dari MPSI coba melakukan hal itu. Apa pun masalah dan kendala yang ada, jika kita lakukan bersama insyaallah itu akan teratasi. Dan ini, yang kami lakukan ditahun 2023. Nah. Kolaborasi itu penting. Dan, ini harus berlanjut. Jangan hanya ditahun 2023, ditahun 2024 kita akan lebih membangun kolaborasi kita, kolektivitas kita, gotongroyong kita, lebih kuat dan lebih maju“, ucap, Mujib Hermani ketua Masyarakat Penggiat Seni Indonesia, kepada team media. “Ini sebetulnya akan ada rekomendasi tadi, akhir rembug komunitas. Itu kita mengusulkan akan ada perda pemajuan kebudayaan. Perda pemajuan kebudayaan ini, akan mengatur komunitas-komunitas seni kedepan, dan itu tergantung dari APBD, inilah yang kita perjuangkan. Karena akan ada payung hukum nya nanti. Akan ada undang-undang pemajuan kebudayaan, urunannya itu ada perda pemajuan kebudayaan untuk melakukan kegiatan-kegiatannya karena keterbatasan oleh anggaran. Nah, apalagi anggaran di DKI itu, cukup besar. Ada delapan puluh tuhuh triliun per tahun. Dan, itu ada dana hibah lima atau sampai sepuluh triliun. Kalau ini terjadi seluruh DKI, seluruh Jakarta, ekosistem berkeseniannya itu akan berjalan dengan baik“, tambah, Mujib saat diwawancarai. Lalu ketika ditanya mengenai dana yang dijelaskan, siapa saja yang dapat menerima dana tersebut ? Mujib menjawab, “Semua. Jadi tidak ada namanya, makanya, jadi, kita namanya tuh, Masyarakat Penggiat Seni bukan seniman, kita tidak mau memakai istilah seniman. Penggiat Seni itu, tukang pantek panggung, tukang tarik kabel, tukang lampu, segala macam, itu bagian dari kita. Tidak ada mereka, kegiatan-kegiatan berkesenian, ekosistem berkesenian itu, tidak akan berlangsung dengan baik“, ujar, Mujib saat wawancara dengan team media ditengah berjalannya acara.

Ditempat terpisah, masih diarena acara, dirooftop pasar Gembrong. Lagi, team media mewawancarai salah satu penulis yang baru saja meluncurkan buku puisi berjudul, “Pendoa yang lupa nama Tuhannya”, yang menjadi bagian dari acara dirooftop, Nuyang Jaimee. “Buku ‘Pendoa yang lupa nama Tuhannya’ adalah buku kumpulan puisi saya yang lahir dari pergulatan saya di saveTIM (Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki). Disitu ada kekecewaan teman-teman, termasuk saya didalamnya. Saya lahir dari Taman Ismail Marzuki. Dan pergulatan saya di Taman Ismail Marzuki itu, lahirlah buku ini. Lalu kenapa saya berpikir, ini harus dibuat roadshow ? atau kemasyarakatankan puisi Pendoa yang lupa nama Tuhannya ini, karena ada pesan-pesan moral didalamnya. Ada pesan-pesan perlawanan didalamnya, bahwa, kita seniman tidak bisa diam. Tidak harus diam. Dengan cara apa, dengan cara berkarya. Kebetulan saya bisa memberi perlawanan dengan menulis puisi, dengan cara berkarya disastra, saya menulis. Ini yang harus saya sampaikan ke masyarakat bahwa puisi-puisi ‘Pendoa yang lupa nama Tuhannya’ ini terdapat puisi-puisi yang lahir dari pergulatan tersebut dimana kecemasan, kekhawatiran, kemarahan, ingin protes, dan lain sebagainya, dimana adalah dunia kesenian. Tapi sebenarnya kalau kita mau lihat secara lingkup besar, ini peradaban dan kebudayaan bangsa didalamnya. Karena sastra ini, kan, bagian dari pesan-pesan moral yang bisa disampaikan ke masyarakat“. Ungkap, Nuyang Jaimee, dalam wawancara dengan team media. Ada pun rencana roadshow buku Pendoa yang lupa nama Tuhannya akan berada di lima kota, yaitu, Bandung, Jogja, Solo, Banten, dan satu kota masih tentatif.

Dan. Penampil pada malam Pagelaran Seni Budaya Berbasis Komunitas Provinsi DKI Jakarta 2023 bertema “komunitas Seni Menuju Daerah Khusus Jakarta”, itu, diantaranya :

  1. Lasman Simanjuntak⁩ (KSJ)
  2. Guntoro Sulung⁩ (KSJ)
  3. Sihar Ramses S. (KTN)
  4. Riri Satria (JSM)
  5. Jalie Gims (Musisi)
  6. Ireng Halimun⁩ (Sastra Semesta)
  7. Iyus Jayadibumi (Kromatik)
  8. Sanggar Ruang Condet⁩, dkk (Sanggar Ruang Condet)
  9. Badri Adalah Badri (Seniman Ngopi Semeja)
  10. Narima Beryl Ivana⁩ (KSJ)
  11. Dyah Kencono Puspito Dewi⁩ (Satarupa)
  12. Wahyu Toveng⁩ (KLB)
  13. Chemonk⁩ (Penyair Seksih)
  14. Diana Prima Resmana⁩ (Penyair Seksih)
  15. Ari Toskir⁩ (KPJ)
  16. Jack Ghozaly⁩ (KSJ)
  17. NRS⁩ (eFSi)
  18. Giyanto Subagio⁩ (Kops)
  19. Ihwal Fajar (KSJT)
  20. Band Musik Lingkaran
  21. Repertoar, Bambang Oeban, Bendera WD, Camdi, Hari Patakaki, Iwan Kurniawan.
  22. MUSIK RedFlag Band.

Dari nama-nama penampil diatas adalah perwakilan dari komunitas-komunitas yang ada di jabodetabek.

(red/yus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *