Maret 29, 2026
Kondisi TPT yang ambrol di Kampung Bojong Koneng, Babakan Madang, terlihat menyisakan tumpukan batu tanpa struktur yang kokoh. Warga setempat menyebutkan tidak ada tanda-tanda perbaikan hingga sebulan terakhir. (Foto: Dokumentasi Tim Red)

Kondisi TPT yang ambrol di Kampung Bojong Koneng, Babakan Madang, terlihat menyisakan tumpukan batu tanpa struktur yang kokoh. Warga setempat menyebutkan tidak ada tanda-tanda perbaikan hingga sebulan terakhir. (Foto: Dokumentasi Tim Red)

Warga menyebut kerusakan terjadi pada 17 Februari 2026 dan hingga kini belum ada perbaikan dari pihak pelaksana PT Saeka Utama Perkasa, meski telah melewati masa satu bulan. Struktur batu yang tersisa mengindikasikan potensi kelemahan konstruksi dan pengawasan proyek.

KABUPATEN BOGOR, Buserbhayangkaratv Proyek Tembok Penahan Tanah (TPT) senilai Rp427.477.000 di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan. Pasalnya, bangunan infrastruktur yang baru selesai dikerjakan itu dilaporkan ambruk hanya dalam kurun waktu dua minggu pasca pengerjaan, tanpa dipicu faktor cuaca ekstrem.

‎Peristiwa ambruk terjadi pada 17 Februari 2026, atau dua minggu setelah proyek dinyatakan rampung. Hingga saat ini, puing-puing material masih teronggok di lokasi tanpa penanganan berarti, meski sudah memasuki lebih dari satu bulan pasca kejadian.

‎Berdasarkan informasi faktual yang dihimpun di lapangan, sumber dari warga sekitar yang rumahnya berada tepat di dekat lokasi kejadian mengungkapkan bahwa kerusakan terjadi bukan disebabkan oleh faktor alam, melainkan diduga kuat akibat lemahnya kualitas konstruksi.

‎”Kejadiannya 17 Februari, sebelum puasa.”ungkap warga.

‎Selanjutnya, menurut warga lain menyebut bahwa pernyataan dari perwakilan perangkat desa. Terkait proyek tersebut Ia mengatakan, “Tidak ada anggaran kalau untuk perbaikan lagi,”ujar sumber yang enggan disebutkan identitasnya kepada wartawan, Jum’at, (27/3/2026).

‎Sumber tersebut juga mengonfirmasi bahwa pihak pelaksana proyek, PT Saeka Utama Perkasa, pernah menyatakan akan bertanggung jawab. Namun, hingga kini, belum ada realisasi perbaikan.

‎”Infonya dari pelaksana (PT) akan bertanggung jawab, tapi sampai saat ini sudah satu bulan lamanya. Di lokasi cuma ada batu saja. Belum tahu persis kapan jadwal perbaikannya,” tandasnya.

‎Proyek TPT tersebut bersumber dari dana Bantuan Keuangan Infrastruktur Desa (Samisade) Tahun Anggaran APBD 2025 Kabupaten Bogor. Dengan nilai kontrak mencapai Rp427,4 juta, proyek ini mencakup pembangunan struktur penahan tanah sepanjang 30 meter dengan ketinggian 8 meter.

Dokumentasi: Suasana peresmian atau pencanangan proyek TPT Samisade Tahun 2025 di Bojong Koneng. Kini, bangunan yang diharapkan menjadi penahan longsor justru ambrol sebelum sempat berfungsi maksimal, memicu polemik di tengah masyarakat.
Dokumentasi: Suasana peresmian atau pencanangan proyek TPT Samisade Tahun 2025 di Bojong Koneng. Kini, bangunan yang diharapkan menjadi penahan longsor justru ambrol sebelum sempat berfungsi maksimal, memicu polemik di tengah masyarakat.

‎Kejadian ambruk yang terjadi dalam waktu singkat pasca serah terima pekerjaan ini menyulut pertanyaan publik. Pengamat konstruksi menilai indikasi awal kerusakan mengarah pada minimnya penguatan struktur dasar, ketidakoptimalan sistem drainase, hingga potensi penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi.

‎Kondisi ini dinilai sangat riskan karena lokasi TPT berada di bantaran sungai dan dekat dengan permukiman warga. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan terjadi longsor susulan yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

‎Publik dan warga setempat kini mendesak tiga langkah konkret,
‎1. Investigasi menyeluruh oleh pemerintah desa dan instansi terkait.
‎2. Audit teknis independen untuk menguji kelayakan konstruksi dan mengungkap potensi kelalaian atau pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi.
‎3. Transparansi anggaran dan sanksi tegas terhadap pihak yang terbukti lalai.

‎Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Saeka Utama Perkasa selaku pelaksana kegiatan maupun perangkat desa setempat belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti ambruknya TPT, maupun jadwal pasti pelaksanaan perbaikan.

‎Baru rampung, lalu ambruk. Bukan karena cuaca, tetapi diduga gagal struktur. Ini bukan sekadar kerugian material, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga. Masyarakat menunggu janji pertanggungjawaban dari PT pelaksana yang sudah sebulan lebih hanya menjadi angin lalu. Jika tak ada tindakan tegas, proyek serupa berpotensi mengulangi kesalahan yang sama. (Ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *