MEWUJUDKAN “POLISI BERSAMA MASYARAKAT” DI ERA DIGITAL: SEBUAH CETAK BIRU TAKTIS 🇮🇩
Mendengar visi Kapolri yang baru, “Polisi Bersama Masyarakatt”, saya teringat hasil pengamatan langsung di lapangan, baik saat melihat digital policing di Tiongkok, maupun kesuksesan community policing saat sekolah di Jepang dan kepolisian Inggris (Metropolitan Police) saat kunjungan Study Banding ke Scotland Yard London.
Negara-negara tersebut membuktikan bahwa kepolisian modern tidak lagi sekadar mengandalkan kehadiran fisik. Mereka memadukan Pemolisian Masyarakat (Community Policing) dengan Pemolisian Digital & Algoritma. Teknologi digunakan untuk memahami pola aktivitas warga, kebiasaan, hingga ekspektasi mereka, sehingga polisi bisa secara presisi menjamin keselamatan, keamanan, dan ketertiban masyarakatnya. Polisi humanis di depan, namun didukung mesin analitik cerdas di belakang.
Agar visi Kapolri baru ini benar-benar membumi dan tidak sekadar “wacana” seperti masa lalu, kita membutuhkan langkah konkret dan dukungan partisipasi masyarakat serta pengawasan dan saran masukan untuk kepolisian yang ada di wilayahnya masing-masing.
Berikut adalah usulan cetak biru operasional Smart Digital Community Policing yang bisa langsung dieksekusi:
👮♂️ Patroli Jalan Kaki Berbasis Digital
Hidupkan kembali patroli jalan kaki (dua orang), namun dengan standar modern. Bekali personel dengan bodycam dan sarana komunikasi yang terkoneksi langsung dengan Bhabinkamtibmas di setiap desa. Interaksi tatap muka jalan terus, namun setiap pergerakan terekam dan transparan. Ada istilah Omnipresence yaitu Melalui Pendekatan Hibrida Kehadiran petugas dari pagi hingga malam menciptakan efek omnipresence (kehadiran di mana-mana). Mereka juga merancang pos kontrol seperti kafe, mereka mencoba melembutkan wajah otoritas (soft approach) agar tidak terlihat terlalu militeristik atau mengintimidasi aktivitas ekonomi masyarakat, namun di saat yang sama pengumpulan data biometrik dan analitik video tetap berjalan masif di latar belakang.
🚓🏍️ *Patroli Kendaraan Bermotor atau EV
Patroli berkendaraan tetap dilengkapi dimana setiap kendaraan memiliki “vehicle cam” dan sarana komunikasi yang terkoneksi langsung dengan Control Command Centre dan seluruh petugas lapangan. Hal ini untuk hot persuit jika penjahat menggunakan kendaraan dan permintaan bantuan darurat dari masyarakat. Setiap kendaraan patroli dilengkapi dengan Patroli Ruang Siber dan Pencegahan Kognitif, hal ini mengingat di era di mana konflik fisik sering kali bermula dari disinformasi di media sosial, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak lagi sebatas patroli lingkungan berseragam. Polisi juga harus hadir meronda di ruang digital untuk meredam hoaks, melakukan edukasi publik secara interaktif, dan memutus rantai provokasi sebelum eskalasinya turun ke jalanan.
🛑 Penjagaan Statis di Titik Rawan (Police Hazard)
Kehadiran Polisi di tempat keramaian dan rawan membuat masyarakat tenang dan merasa aman. Tempatkan ploting penjagaan dan pengaturan secara statis di area rawan dan area keramaian. Tujuannya mengamankan rumus dasar pencegahan: C = N + K (Crime = Niat + Kesempatan). Niat jahat tidak akan menjadi kejahatan jika kehadiran polisi berhasil mematikan “Kesempatan”. Pengamatan saya di China mereka memiliki Desentralisasi Command and Control (Konsep Grid Management) dimana Kepolisian China mendirikan Pos-pos portabel yang berjarak setiap 100 meter yang merupakan bagian dari sistem Grid Management (Wanggehua). Tiongkok membagi wilayah urban menjadi blok-blok atau “grid” kecil yang sangat terukur. Pos yang disamarkan dengan desain ramah seperti kafe sebenarnya adalah smart police station. Di balik fasad santai tersebut, pos itu berfungsi sebagai edge computing node—simpul pengolah data real-time di lapangan yang terintegrasi langsung dengan jaringan kamera pengawas bertenaga AI (seperti proyek Sky Net atau Sharp Eyes). Ini memungkinkan respons taktis dalam hitungan detik karena komando tidak lagi menunggu instruksi dari markas besar, melainkan dianalisis dan dieksekusi langsung di level jalanan.
🖥️ Integrasi Total Command Control Center
Seluruh Patrolman, Bhabinkamtibmas, serta Bintara Jaga tidak boleh bergerak tanpa arah. Mereka harus dimonitor, dikontrol, dan diperintah secara real-time oleh Command Control Center (atau sub-center wilayah). Perlu ada para Supervisor yang memiliki skill ketrampilan mengontrol dan memerintah dengan tepat dan berani melakukan diskresi kepolisian yang bertanggungjawab serta memiliki kecerdasan risk management. Kepolisian Tiongkok memiliki Pemolisian Algoritma sebagai Kompas di Lapangan: Data besar (big data) dan analitik prediktif tidak hanya berdiam di layar command center, melainkan disalurkan langsung ke genggaman personel yang membaur dengan warga (seperti Bhabinkamtibmas dan Patrolman serta petugas kring serse intel). Sebelum petugas menyambangi suatu wilayah, sistem AI sudah memberikan profil kerawanan wilayah tersebut secara real-time—mulai dari probabilitas kejahatan jalanan, potensi gesekan sosial, hingga tren kejahatan siber lokal. Petugas hadir secara humanis, namun dengan kewaspadaan taktis berbasis data.
⏱️ Pecahkan Rekor Quick Response 110 (Respons Darurat 5 Menit)
Sistem terintegrasi di atas akan membuat panggilan darurat 110 benar-benar efektif. Respons cepat polisi atau Quick Response di bawah 5 menit (yang rekor MURI-nya pernah saya ciptakan di masa dinas) harus dipecahkan dan dijadikan SOP harian di seluruh jajaran, bukan sekadar prestasi insidental. Respons Komunal Berbasis Ekosistem Digital yaitu Interaksi masyarakat dengan polisi dipercepat melalui sistem terintegrasi. Ketika masyarakat menekan panic button atau melaporkan anomali, sistem secara otomatis memverifikasi identitas pelapor (melalui integrasi data kependudukan terpusat) dan mengerahkan petugas terdekat. Sentuhan personal dan empati tetap terjadi saat petugas tiba di lokasi, namun kecepatan responnya dikendalikan penuh oleh algoritma digital.
Jika rutinitas kedisiplinan ini berjalan setiap hari secara konsisten, maka tugas pokok kepolisian sebagai Pelindung, Pengayom, dan Pelayan masyarakat, serta Penjaga Pemelihara Kamtibmas, akan benar-benar terwujud nyata. Namun Teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan empati, penilaian moral, dan kearifan lokal seorang polisi saat berhadapan langsung dengan warganya. AI dan otomasi mengambil alih beban komputasi dan kecepatan data, membebaskan personel di lapangan untuk sepenuhnya berfokus pada resolusi konflik dan membangun kepercayaan publik.
Bagaimana menurut rekan-rekan? Sudah saatnya kita dukung pembenahan ini agar Polri semakin dicintai rakyat!
(Silakan di-share jika sependapat) 🙏🏻
Salam Transforamsi dan Bersahaja
⭐⭐ Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, MKom
Jenderal Bersahaja
Pengamat Kepolisian; Pengamat IT; Futurelog