Maret 5, 2026

CILEUNGSI, BOGOR, Buserbhayangkaratv – Pengerjaan jalan betonisasi di Desa Gandong, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, diduga tidak memenuhi standar teknis dan menimbulkan tanda tanya atas akuntabilitas penggunaan anggaran daerah yang hampir mencapai Rp 500 juta. Sabtu, (20/09/2025).

Proyek yang berlokasi di Jalan GG H. Rosid, RT 03/02 RW 09, tersebut dikerjakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) bersama masyarakat dan telah selesai dikerjakan pada Sabtu, 20 September 2025. Sumber dana proyek berasal dari APBD Kabupaten Bogor Tahun 2025 melalui program Bantuan Keuangan (Bangkeu).

‎Penelusuran di lapangan menemukan sejumlah kejanggalan pada hasil pengerjaan jalan, antara lain. Jalan beton tidak rata pada beberapa bagian. Terdapat retak rambut (hair cracks) pada permukaan beton yang mengindikasikan kemungkinan tidak dipenuhinya standar campuran atau proses pengerjaan. Gejala-gejala tersebut memunculkan dugaan adanya praktik pengurangan kualitas material selama pengerjaan.

Seorang warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan jalan tersebut menyatakan kekhawatirannya. “Pengerjaannya terkesan cepat dan asal jadi. Menurut saya, jalan ini tidak maksimal dan akan cepat rusak,” ujarnya kepada tim media.

‎Saat dikonfirmasi, Kepala Desa (Kades) Gandong, Khairul Shaleh, tidak dapat ditemui di kantor. Egih, perangkat desa bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), yang memberikan tanggapan. Ia mengakui adanya ketidakrataan dan berjanji perbaikan akan dilakukan dalam tujuh hari ke depan. “Akan dirapihkan, ditambal, atau diberi sika. Besok mungkin langsung diperbaiki,” jelasnya. Egih juga menyatakan bahwa proyek tersebut menggunakan beton standar K-300.

‎Sebagai informasi, mutu beton K-300 menandakan kekuatan tekan karakteristik sebesar 300 kg/cm², yang merupakan standar untuk jalan lingkungan dengan bebas lalu lintas rendah hingga menengah.

‎Di tempat yang sama, seorang pendamping desa dari Kecamatan Cileungsi menanggapi soal hasil monitoring dan evaluasi (monev). Ia menyebutkan bahwa ketidaksempurnaan jalan tersebut akan menjadi bahan pembelajaran untuk tahap kedua proyek. “Terkait jalan yang pecah dan tidak rata itu disebabkan beberapa faktor, seperti cuaca. Waktu itu ada hujan deras dan banjir,” katanya.

‎Berdasarkan temuan di lapangan dan besarnya anggaran yang dikeluarkan, muncul tuntutan untuk dilakukan audit atau investigasi yang lebih mendalam dan komprehensif oleh pihak yang berwenang. Hal ini dinilai penting untuk memastikan akuntabilitas, transparansi, dan kesesuaian hasil pekerjaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

‎(Ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *