Juni 23, 2026
‎"Makanya pake Paku Beton Bu, jangan pakai Paku Triplek,"ujarnya spontan.

‎BOGOR, Buserbhayangkaratv – Proses Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang merupakan tahapan pendaftaran dan seleksi awal dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMKN 1 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, sejumlah orang tua calon siswa mengendus adanya kejanggalan sistematis dalam penyaringan dokumen potensi siswa.

‎Kecurigaan ini mencuat setelah sejumlah orang tua mendapati nama anak-anak mereka, yang memiliki nilai prestasi di atas rata-rata dan sempat bertahan di peringkat atas, tiba-tiba dinyatakan tidak lolos seleksi. Sebaliknya, sejumlah siswa dengan nilai di bawah mereka justru melenggang mulus masuk ke sekolah favorit tersebut.

‎Praktik dugaan kecurangan ini mulai terungkap ke publik secara tidak sengaja melalui percakapan antar orang tua siswa. Salah satu orang tua yang anaknya lolos, meski dengan nilai di bawah rata-rata, melontarkan istilah yang kini viral di kalangan wali murid.

‎”Makanya pake Paku Beton Bu, jangan pakai Paku Triplek,”ujarnya spontan.

‎Sumber yang mendengar pernyataan tersebut awalnya mengaku kebingungan dan tidak memahami maksud istilah tersebut. Namun, teka-teki itu akhirnya terjawab setelah mendapat penjelasan dari wali murid lainnya.

‎Istilah “Paku Beton” diduga kuat merupakan kode atau jargon untuk jalur belakang dengan membayar uang pelicin sebesar Rp12 juta demi meloloskan calon siswa ke SMKN 1 Gunung Putri. Ironisnya, berdasarkan kesaksian warga, praktik “uang pelicin” ini diduga telah menjadi rahasia umum yang terjadi hampir setiap tahun.

‎Beberapa orang tua calon siswa yang menjadi korban sistem seleksi ini menceritakan kronologi hilangnya nama sang anak secara misterius. Menurutnya, hingga sehari sebelum pengumuman resmi, nama anaknya masih tercantum dalam sistem online. Namun, saat hari pengumuman tiba, data peringkat tersebut mendadak kosong (blank) dan anaknya dinyatakan tidak diterima.

‎Kekecewaan orang tua semakin mendalam mengingat SMKN 1 Gunung Putri merupakan sekolah kejuruan favorit yang menjadi harapan besar bagi anak-anak mereka untuk meneruskan pendidikan. Akibat ketidakjelasan ini, sejumlah orang tua terpaksa mulai mencari alternatif sekolah swasta, meskipun harus menanggung biaya yang hampir setara.

‎Guna keberimbangan berita, awak media telah berupaya mendatangi SMKN 1 Gunung Putri pada Rabu, 17 Juni 2026, untuk meminta klarifikasi langsung. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Humas maupun Kepala Sekolah SMKN 1 Gunung Putri terkesan menghindar dan tidak dapat ditemui.

‎Bungkamnya pihak sekolah semakin memperkuat dugaan adanya konspirasi dalam sistem penerimaan siswa. Kini, para orang tua murid mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), untuk segera turun tangan melakukan evaluasi total dan audit investigatif terhadap sistem PCMB dan SPMB di SMKN 1 Gunung Putri demi mengembalikan keadilan bagi para siswa berprestasi. (Ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *