Juli 24, 2026
Putu Suasta bersama Demer (Gde Sumarjaya), dan Akbar Faisal

DENPASAR, BALI, BuserbhayangkaratvKorupsi yang sudah sedemikian mewabah merupakan penyakit masyarakat yang menghambat berbagai program dan pelaksanaan visi misi pemerintah. Karena itu, perlu upaya radikal dan berani untuk segera membasminya.

Hal itu disampaikan pengamat sosial politik Putu Suasta di sela-sela roundtable diskusi Akbar Faizal Uncensored bertajuk “Penyelamatan BUMN Sebagai Pilar Utama Perekonomian Nasional” di Denpasar, Rabu (22/7/2026). Menurutnya, dampak korupsi saat ini sudah sangat sistemik dan merusak.

“Perilaku koruptif di sektor bisnis seperti BUMN telah merambah ke ranah penegak hukum. Ini berimbas pada rusaknya sistem, melemahnya daya ekonomi masyarakat, hilangnya kepercayaan investor, dan melemahnya semangat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ia merusak segala sendi positif untuk kemajuan bangsa dan masyarakat,” tegasnya.

Putu menilai kondisi korupsi yang sedemikian parah telah membuat masyarakat apatis dan terperangah. Pasalnya, berbagai kasus tangkap tangan justru dilakukan oleh mereka yang dipercaya dan terpilih lewat mekanisme demokrasi. Belum lagi konflik antar lembaga penegak hukum sebagaimana kita saksikan belakangan ini.

“Dalam konteks BUMN, kita menyaksikan banyak kasus korupsi para pejabat yang menguap begitu saja. BUMN-nya kolaps, sementara mantan pejabatnya sukses bermewah ria,” katanya.

Karena itu, Putu mendorong adanya keteladanan dari pemimpin.
“Integritas adalah modal utama pemimpin untuk memberantas korupsi. Kalau pemimpinnya bersih, berani, dan memberi teladan, maka sistem akan ikut bersih. Tanpa integritas, aturan sehebat apa pun akan dijebol juga,” ujarnya.

Diskusi tersebut juga menghadirkan Gde Sumarjaya Linggih, Misbakhun, Wijayanto Samirin, Gusti Ngurah Anom, serta sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, politisi, dan budayawan Bali.

Putu juga menyarankan agar Indonesia mencontoh beberapa negara yang pemimpinnya berhasil memberantas korupsi dari hulu.
“Seperti Deng Xiaoping di China yang tegas mengatakan ‘tidak peduli kucing putih atau hitam, yang penting dapat menangkap tikus’. Kita berharap dan mendukung tindakan tegas, berani, dan tidak pandang bulu dari Presiden Prabowo, meski harus out of the box,” pungkas Putu Suasta. (Jb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *