Juli 1, 2026
Masyarakat dan para orang tua murid diimbau untuk tidak mempercayai pihak mana pun yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang

‎CILEUNGSI, BOGOR, BuserbhayangkaratvDunia pendidikan di Kabupaten Bogor kembali diterpa isu miring. Praktik dugaan pungutan liar (pungli) mencuat dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) atau Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) di SMK Negeri 1 Cileungsi. Informasi tersebut di bantah langsung oleh kepala sekolah (SKIM) Fajar pada Rabu, (1/06/2026).

‎Seorang oknum yang mengatasnamakan tenaga pendidik diduga memanfaatkan momen verifikasi pasca-kegagalan seleksi awal untuk meraup keuntungan pribadi dari orang tua siswa.

‎Berdasarkan investigasi dan informasi yang dihimpun dari lapangan, modus dugaan pungli ini menyasar orang tua calon peserta didik yang anaknya dinyatakan tidak lolos seleksi berkas atau verifikasi awal. Oknum tersebut menawarkan “jalan pintas” dengan jaminan kelulusan.

‎Salah satu orang tua calon siswa, yang meminta identitasnya dirahasiakan, membeberkan kronologi penawaran ilegal tersebut kepada awak media.

‎”Anak saya dinyatakan tidak lolos seleksi. Namun, saat saya datang ke sekolah untuk melakukan proses verifikasi, ada oknum guru yang menawarkan secara langsung untuk meloloskan anak saya dengan syarat membayar Rp4 juta,” ungkap narasumber, pada Kamis (25/6/2026).

‎Akibat desakan ekonomi dan ketidakmampuan menyediakan uang pelicin dalam jumlah besar, warga tersebut terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri yang populer dengan sebutan ‘SKIM’ tersebut.

‎Keluhan senada juga datang dari warga lain bernama Embo. Ia mengkritik birokrasi dan teknis pendaftaran di SMKN 1 Cileungsi yang dinilai berbelit-belit dan menyulitkan masyarakat awam.

‎Merespons keresahan warga, awak media melakukan konfirmasi langsung ke pihak manajemen sekolah. Saat ditemui di ruang kerjanya, Fajar selaku Kepala SMK Negeri 1 Cileungsi membantah keras adanya keterlibatan tenaga pendidik maupun stafnya dalam praktik transaksional tersebut.

‎Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan penerimaan siswa baru saat ini sudah berbasis digital, transparan, dan sesuai prosedur ketat yang ditetapkan pemerintah provinsi Jawa Barat, sehingga mustahil bisa diintervensi oleh individu.

‎”Kami sudah sesuai prosedur karena semua pendaftaran melalui sistem. Bisa jadi yang mengaku guru, bukan guru di sini,” tegas Kepala SMKN 1 Cileungsi.

‎Pihak sekolah juga menambahkan bahwa klaim dari oknum tersebut kemungkinan besar adalah tindakan penipuan yang mencatut nama sekolah, mengingat sistem seleksi tidak memberikan ruang bagi pihak luar untuk mengubah hasil.

‎”Kami rasa tidak akan bisa bantu, karena PCMB dan SPMB melalui sistem. Kalaupun memang ada informasi seperti itu, akan kami evaluasi,”pungkasnya.

‎Ia menambahkan, Masyarakat dan para orang tua murid diimbau untuk tidak mempercayai pihak mana pun yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang. Seluruh proses penerimaan siswa di sekolah negeri dipastikan gratis dan berjalan sesuai regulasi resmi.

‎Meski pihak sekolah telah memberikan klarifikasi dan membantah keterlibatan internal, bola liar isu ini tetap menggelinding di tengah masyarakat. Berbagai pihak mendesak agar dugaan pencatutan nama institusi pendidikan ini diusut secara tuntas oleh instansi berwenang. Hal ini dinilai penting agar tidak menjadi preseden buruk yang merusak marwah pendidikan di Bogor.

‎Hingga berita ini diturunkan, Penelusuran lebih lanjut dan pengumpulan keterangan dari pihak-pihak terkait masih terus dilakukan demi menyajikan fakta yang berimbang dan akurat.

‎Diketahui antusias para calon murid baru yang mendaftar di sekolah menengah kejuruan di negeri satu (SMKN1 Cileungsi) ini mencapai 1.500 (seribu lima ratus calon siswa). Sedangkan penerimaan calon siswa di SKIM saat ini hanya 504 siwa dan tahapan penerimaan calon siswa-siswi baru sudah memasuki tahap (gelombang) ke dua melalui jalur Domisili (Zonasi) dan Afirmasi hingga 6 Juli 2026.

‎(Ysp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *